Oleh Sis Ariyanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia SMP Al Hikmah Surabaya)
Kemerdekaan Republik Indonesia telah genap berusia 81 tahun. Setiap bulan Agustus, seremonial pengibaran bendera Merah Putih dan riuh perlombaan rutin digelar oleh semua lapisan masyarakat desa maupun kota. Akan tetapi, di balik gegap gempita perayaan HUT RI ke-81 ini, disadari atau tidak, ada ancaman sunyi mengintai. Sebagaimana kita ketahui, generasi hari ini tumbuh di tengah kemudahan digital dan kenyamanan fasilitas yang belum pernah ada sebelumnya. Kepraktisan ini sering menciptakan ilusi seolah bangsa ini telah aman di puncak kejayaan. Sementara, negara-negara di luar sana sedang berlari kencang melahirkan inovasi-inovasi yang siap menguasai dunia, mengembangkan kecerdasan buatan, dan kemandirian ekonomi. Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah sudah siap? Dalam berbagai indikator dasar seperti ketahanan riset dan kualitas pendidikan, masih harus berjuang keras.
Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini jangan sampai melenakan. Kekaisaran Romawi runtuh akibat dekadensi moral, fragmentasi sosial, dan generasi penerus yang kehilangan disiplin serta daya juang para pendirinya. Uni Soviet, raksasa adidaya abad ke-20 yang runtuh akibat stagnasi inovasi, keterpurukan ekonomi, dan ketidakmampuan beradaptasi dengan zaman. Kedua peristiwa tersebut membuktikan bahwa kemerdekaan dan kebesaran masa lalu tidak memberikan jaminan kelangsungan hidup sebuah negara jika generasi penerusnya terbuai dalam kenyamanan, pasif, dan sekadar menjadi pasar konsumen bagi produk bangsa lain.
Penulis merasa bahagia ternyata masih banyak di sekitar kita generasi muda yang peduli dan memiliki pemikiran bertumbuh untuk maju. Berdasarkan dengar pendapat dengan beberapa siswa, kemerdekaan bagi mereka dimaknai sebagai kebebasan untuk bertumbuh, mengembangkan potensi diri, mandiri, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. Wujud nyata yang mereka lakukan dengan mengangkat adik asuh dari uang saku yang disisihkan untuk infak harian, mendonasikan buku bagi sekolah-sekolah yang koleksi perpustakaannya masih minim. Kemerdekaan bukan sekadar perayaan setiap tahun, melainkan kesempatan untuk berkembang mulai dari hal-hal kecil, seperti berani mencoba dan tidak mudah menyerah. Mencoba mengikuti kompetisi akademik maupun nonakademik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Indonesia berdiri di atas konsensus kebangsaan yang mahal harganya. Para pendiri bangsa, dari latar belakang ideologi, agama, dan suku yang beragam, mampu menyatukan langkah karena memiliki cita-cita masa depan yang sama, bebas dari belenggu keterbelakangan. Para pahlawan berjuang bukan untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk masa depan yang hari ini kita nikmati.
Sebagai upaya untuk menjaga kedaulatan bangsa hari ini menuntut aksi konkret yang terukur. Dalam bidang pendidikan, mengubah paradigma dari sekadar menghafal menjadi berpikir kritis, logis, dan terstruktur. Mendorong hasil riset lokal agar diakui industri global, di tingkat sekolah misalnya melalui proyek sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Memotret dan mengangkat permasalahan di sekitar dan menemukan solusinya. Dalam bidang ekonomi, berhenti menjadi penonton dan konsumen pasif. Generasi muda harus mengambil peran sebagai pencipta (creator), pengembang teknologi, dan pemilik platform.
Mengisi kemerdekaan berarti mengubah kenyamanan menjadi daya cipta, serta menukar sikap apatis dengan disiplin nasional. Bangsa ini terlalu besar untuk sekadar menjadi penonton di panggung sejarah. Kemerdekaan adalah estafet perjuangan, saatnya generasi penerus membuktikan bahwa Indonesia sanggup berdiri tegak, berdaulat, adil, makmur, dan disegani dunia.
(Sumber gambar: sejuk.id)