(16 Aug 2026 | 15:33)

Pedagogi Kemerdekaan

Oleh Fathurrofiq, S.S., M.Pd.I (Guru Bahasa Indonesia SMP Al Hikmah Surabaya)

Langkah awal untuk membaca tulisan ini, perlu dijernihkan dahulu pengertian dari frasa “pedagogi kemerdekaan”.  Dengan merujuk pada wawasan Gunita Gupta, pedagogi adalah kendali arah yang dilakukan orang tua yang lebih dahulu mengerti untuk anak-anak mereka.  Dengan merujuk pada pandangan Max van Manen, Gupta menegaskan definisinya sebagai berikut.

The pedagogue,” Max van Manen (1982) writes, “is the adult who shows the child the way into the world” (p. 285). By this definition, as a parent I am a pedagogue to my own children. But, I am also a teacher: an adult to whom a roomful of other people’s children look for guidance almost every day from 8:05 a.m to 03.00 pm.

Kutipan Gupta ini menonjolkan aktivitas ruang kelas. Di kelas ini, bisa dibayangkan anak-anak belajar mencari jalan dengan tuntunan guru.  Kutipan lebih lengkap per definisi pedagogi bisa dirujuk dari Gunita Gupta, Pedagogy in the Theory and Practice, (Learning Landscapes, Spring 2021, Vol. 14 No. 1, 143).

Kemerdekaan, sementara itu, merujuk pada dua wawasan: 1) kemerdekaan dalam konteks usia tugas perkembangan anak, dan 2) kemerdekaan sebagai etos gerakan pembebasan dari kolonialisme. Kedua-duanya dalam bahasa Inggris menggunakan kosakata yang sama: independence. Hanya saja, yang pertama psychology-minded, sedangkan yang kedua socio-historiography-minded. Dalam telaah perkembangan anak, independence bisa diterjemahkan dengan bahasa atau diksi yang lebih fasih, tentu bukan kemerdekaan, melainkan kemandirian, meskipun keduanya sinonim.  Andre Schneider-Munos menjelaskan.

Those in the field of child and youth care, with its developmental competencies, teach young people to care for themselves and to what extent youth can trust others in healthy relationships as they move towards independence. What does independence mean? Moving towards a mature completion of the developmental challenges of latency age has become far more complicated and tenuous in such complex times.

Andre Schneider-Munoz menjelaskan variabel yang memengaruhi kecepatan dan kemampuan keluarga memotong atau mempercepat childish anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi yang mandiri atau merdeka dari ketergantungan pada orang tua (What Does Independence Mean?, Journal of Youth and Child Care Work, The National Organization of Child Care Worker Associations, Inc./0741-9481).

Diksi kemandirian untuk menerjemahkan independence bagi sebuah bangsa agaknya menjadi prematur mengingat terbebasnya bangsa dari kolonialisme atau imperialisme tidak dengan serta-merta menjadikan bangsa dan negara Indonesia mandiri. Dengan demikian, istilah kemerdekaan menjadi lebih fasih. Ukuran atau indikatornya tegas: keluarnya bangsa asing penjajah dari bumi Indonesia. Pembukaan UUD 1945 sendiri menegaskan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

  Saat proklamasi dibacakan, Indonesia baru memasuki pintu gerbang kemerdekaan. Sedangkan negara Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur baru bisa menjadi predikat ketika Indonesia telah mandiri secara ekonomi, teknologi, dan pengelolaan sumber daya di seantero wilayah Indonesia. Soekarno dan Hatta sendiri punya pandangan berbeda tentang strategi kemerdekaan. Jika Soekarno menegaskan bahwa kemerdekaan menjadi milestone untuk menjadikan bangsa berdikari, maka Hatta menegaskan bahwa kematangan bangsa Indonesia akan meneguhkan kemerdekaan itu.

Namun, setajam apa pun perbedaan keduanya, kecintaan pada tanah air atau nasionalisme menyatukan mereka dan mengalahkan perbedaan. Betapa Soekarno dan Hatta adalah founding fathers bagi bangsa ini. Keduanya mewakili generasi pejuang kemerdekaan dengan kesadaran pedagogis bagi bangsanya. Sikap Soekarno-Hatta ini menjadi analogi yang presisi untuk melihat perbedaan strategi guru dan orang tua dalam rangka memandirikan atau memerdekaan anak dari sifat childish. Kecintaan dan kasih sayang pada anak-anak dan murid dari para guru atau orang tua disatukan untuk mendidik dan mendampingi anak-anak menuju kematangan dan kemandirian hidup.

Dengan eksplanasi di atas, hikmah yang bisa disimpulkan terdiri dari dua garis. Pertama, untuk memerdekakan anak dari childish atau mengantarkan mereka pada kemandirian hidup, asas pedagogis yang utama adalah kasih sayang pada anak. Seberapa pun perbedaan strategi guru dengan guru, orang tua dengan orang tua, guru dengan orang tua, kasih sayang pada anak dan murid menyatukan misi memandirikan anak tersebut. Dengan kasih sayang, guru dan orang tua akan mengasihi anak sejak dini jika mereka tidak bisa cepat dan segera mandiri di usia muda mereka.

Kedua, hanya para pemimpin yang punya rasa cinta kasih pada warga-rakyatnya sebagaimana Nabi mengasihi umatnya, yang rela berkorban dan berjuang memerdekakan dan memandirikan bangsanya. Tidak akan ada pemimpin yang sayang pada bangsanya yang tega mengorupsi uang negara, mengeruk kekayaan alam secara ekstraktif, memimpin secara arogan, flexing kekayaan, sementara sebagian rakyatnya masih hidup sengsara. Tidak ada pemimpin yang penuh kasih sayang yang akan memimpin untuk keuntungan pribadi. Tanpa kasih sayang, mungkin mereka punya banyak program, banyak agenda, banyak laporan data kemajuan, tetapi hanya untuk citra dan kesuksesan mereka saja. Jika perlu, mereka tega menghisap dan menginjak yang lemah demi menumpuk kekayaan diri. 

Dalil kepemimpinan ini berlaku untuk semua level kepemimpinan dari kepala keluarga, ketua RT/RW, kepala dinas, kepala sekolah, dekan, rektor, kepala gudang, kepala kantor, kepala bengkel, kepala desa, camat, bupati, gubernur, gubernur BI, menteri, kepala polisi, kepala kejaksaan, kepala kehakiman,  hingga kepala negara. Pedagogi kemerdekaan mengajarkan, spirit dan etos memerdekakan, memberdayakan, memandirikan siapa saja di bawah tanggung jawabnya karena memang pedagogi kemerdekaan menentang bentuk-bentuk kolonialisme dan imperialisme.