Oleh Khoirun Nasihin, M.Pd.I (Guru PAI SMP Al Hikmah Surabaya)
Nuzulul Qur'an merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Ia menjadi tonggak utama terbentuknya tatanan keagamaan, struktur sosial budaya masyarakat Arab, terutama peradaban umat Islam. Secara etimologis, kata “nuzul” berasal dari bahasa Arab “nazala” (نزل) yang berarti “turun”. Sedangkan “Al-Qur’an” berasal dari kata “qara’a” (قرأ) yang berarti “membaca” atau “bacaan”. Dengan demikian, “Nuzulul Qur’an” berarti “turunnya bacaan suci.” Secara istilah, peristiwa diturunkannya Al-Qur’an oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Malaikat Jibril baik secara sekaligus maupun bertahap.
Menurut Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan, pertama kali Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah, yaitu langit dunia. Proses ini dikenal sebagai “nuzul jumlatan wahidah” (turun sekaligus). Tujuannya adalah untuk menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an dan sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum diberikan kepada manusia. Hal ini sesuai dengan tafsiran para mufassir terhadap QS. Al-Qadr ayat 1, yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar.” dan QS. Ad-Dukhan ayat 3 artinya “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” Dari kedua ayat tersebut, mereka bersepakat bahwa malam Lailatul Qadar menjadi momen turunnya Al-Qur’an secara utuh ke langit dunia.
Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama lebih dari 22 tahun kepada Nabi Muhammad saw. Proses ini dikenal sebagai “nuzul munajjaman”. Di setiap turunnya ayat itu didahului dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang disebut asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat).
Ayat yang diturunkan pertama kali saat Nabi Muhammad saw. berada di Gua Hira’ pada malam 17 Ramadan. Ini menjadi momen paling dikenang dalam sejarah Islam. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip dalam kitab Tafsir al-Tabari, dan menurut mayoritas ulama tafsir dan sejarah, pada saat itulah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq.
Manifestasi iman dalam menjemput hikmah Nuzulul Qur’an setidaknya mencakup tiga aspek utama:
1. Tashdiq (membenarkan dengan hati)
Langkah pertama adalah meyakini tanpa keraguan bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah (Firman Allah). Di tengah banjir informasi dan disrupsi teknologi saat ini, iman berfungsi sangat vital karena tidak semua hal dapat dilihat secara empirik. Namun, dibutuhkan kerja hati yang bisa dijadikan sebagai filter. Sebagaiama Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 2:
ٰذلِكَ الْكِٰتبُ لََ رَيْبََۛ فِيْهَِۛ هُدًى لِ'لْمُتَّقِيْ نَ
"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa."
2. Tilawah dan Tadabbur (membaca dan interaksi aktif)
Iman yang hidup akan mendorong seorang mukmin untuk tidak membiarkan Mushaf hanya sebagai hiasan ruangan saja. Dia akan menjemput hikmah yang berarti masuk menuju kedalaman makna melalui tadabbur Al-Qur’an. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya…" (HR. Muslim – no. 804)
3. Amaliyah (transformasi perilaku)
Hikmah Nuzulul Qur’an yang paling dicari adalah perubahan akhlak. Iman yang benar terhadap Al-Qur'an akan melahirkan pribadi yang jujur, adil, dan penuh kasih sayang. Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca saat harian saja, tapi untuk dipraktikkan saat kita berinteraksi dengan sesama manusia.
Sebagaimana Aisyah Radhiallahu anha ditanya oleh salah seorang sahabat tentang Akhlak Rasulullah SAW, beliau menjawab :
"Akhlak beliau adalah Al-Quran" (HR. Muslim)
Saat ini tantangan kemanusiaan semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi dan pergeseran nilai moral memerlukan pegangan yang kokoh. Hikmah Nuzulul Qur’an menawarkan "Oasis Spiritual". Dengan iman, kita menyadari bahwa setiap persoalan hidup sudah memiliki kunci jawabannya di dalam wahyu ilahi.
Di antara hikmah adalah ketenangan (thuma'ninah). Sebagaimana Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Interaksi dengan Al-Qur'an yang didasari iman akan menghasilkan kejernihan jiwa (tazkiyatun nafs). Seseorang yang telah meraih hikmah ini tidak mudah goyah oleh badai ujian, karena ia tahu bahwa kepada Allah ia bergantung dan kembali.
Mari kita jadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momentum untuk memperbarui janji setia kita kepada Al-Qur’an. Jangan biarkan peringatan ini lewat sebagai seremoni belaka, melainkan jadikan ia sebagai titik tolak bagi kita untuk menjadi "Al-Qur'an berjalan" di muka bumi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus berada di bawah naungan cahaya wahyu-Nya.