(16 Aug 2026 | 15:02)

Menempa Jiwa Merdeka:  Tantangan Pembentukan Karakter Era Digital

Oleh Mohammad Efendi, S.S. (Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SD Al Hikmah Surabaya)

Tiap kali bulan Agustus datang, kita seperti punya ritual wajib: pasang bendera, ikut lomba panjat pinang, lalu mendengar pidato tentang betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.  Namun, kalau kita jujur dan mau melihat ke dalam ruang-ruang kelas sekolah hari ini, pertanyaannya jadi berbeda: anak-anak muda kita sebenarnya sudah benar-benar merdeka atau belum?

Zaman memang sudah berganti. Musuh anak-anak sekolah sekarang bukan lagi penjajah yang membawa senapan. Musuh mereka jauh lebih samar, tapi tidak kalah berbahaya: layar ponsel yang digenggam tiap hari, algoritma media sosial yang bikin kecanduan, dan budaya serba instan yang membuat mereka malas berproses.

Kondisi ini membuat makna "merdeka" perlu diartikan ulang. Merdeka hari ini bukan cuma soal bebas dari penjajahan luar, tetapi juga bebas dari ketidakpedulian, ketergantungan digital yang merusak, dan krisis moral. Di titik inilah penanaman karakter menjadi krusial.

Realita di Lapangan

Mendidik karakter anak zaman sekarang itu setengah mati tantangannya. Kita melihat fenomena empati yang makin mengering di media sosial, kasus perundungan siber (cyberbullying), hingga budaya serba instan yang mengikis daya juang (resilience). Banyak murid yang pintar secara akademis dan mahir mengoperasikan teknologi terkini, tetapi gagap saat harus berinteraksi secara sehat, mengendalikan emosi, dan menghargai perbedaan di dunia nyata.

Padahal, kecerdasan intelektual tanpa karakter yang baik hanyalah ancaman bagi lingkungan sekitar. Kepintaran yang tidak dibimbing oleh moral hanya akan melahirkan kejahatan jenis baru. Hal ini sejalan dengan pesan mendalam dari Rasulullah SAW, "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Hadis ini menjadi pengingat keras bagi kita semua. Inti dari pendidikan—bahkan dari peradaban itu sendiri—bukan sekadar menumpuk ilmu pengetahuan atau mengejar nilai di atas kertas, melainkan membentuk manusia yang berakhlak. Seorang murid belum bisa dikatakan benar-benar "merdeka" jika jiwanya masih terjajah oleh sifat egois, ketidakjujuran, dan kelakuan yang merugikan sesama.

Luapan Teori versus Praktik

Kesalahan terbesar kita selama ini adalah menganggap pendidikan karakter itu cukup diajarkan lewat buku teks dan ujian pilihan ganda. Anak disuruh menghafal teori kebaikan dan definisi nilai-nilai Pancasila, tetapi tidak pernah diajak merasakan langsung penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu tentang teori karakter seperti air bah yang meluap di ruang kelas.

Padahal, karakter itu diuji dan dibentuk lewat kebiasaan serta keteladanan, bukan sekadar hafalan. Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang membuat mereka berani mencoba, mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan mereka. Kejujuran, misalnya, tidak akan terbangun cuma karena guru berulang kali bilang "jangan menyontek". Kejujuran baru terlatih ketika anak diberi kepercayaan dan paham kenapa integritas itu penting bagi harga dirinya. Sama halnya dengan gotong royong; nilainya baru terasa waktu mereka dipaksa menyelesaikan proyek bersama teman yang berbeda karakter, suku, atau sudut pandang.

Peran orang tua di rumah dan guru di sekolah juga harus selaras. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Kalau di sekolah diajarkan sopan santun dan kejujuran, tetapi di rumah anak melihat orang tuanya hobi memaki, tidak jujur, atau acuh tak acuh, pendidikan karakter itu akan mentok di jalan.

Masa depan Indonesia 20 atau 30 tahun ke depan tidak ditentukan dari seberapa canggih teknologi yang dipakai anak-anak kita hari ini, melainkan dari seberapa tangguh moral dan karakter yang mereka miliki. Menanamkan karakter ke generasi muda memang membutuhkan waktu panjang, konsistensi, dan kesabaran ekstra. Tapi tidak ada jalan pintas untuk ini. Kita tidak cuma sedang mencetak anak-anak yang pintar mencari nilai atau meraup materi, melainkan sedang menyiapkan manusia-manusia berjiwa merdeka yang punya nurani untuk menjaga rumah bernama Indonesia ini.