Menjaga Kesehatan Mental Remaja dengan KUAT

09 Oct 2026 • 22:26 WIB
Myrna Retnani, S.Psi., Psi.
Oleh Myrna Retnani, S.Psi., Psi.
Guru Bimbingan Konseling SMA Al Hikmah Surabaya
Menjaga Kesehatan Mental Remaja dengan KUAT

Remaja adalah sebuah fase yang menyenangkan walaupun tidak selalu mudah. Fase mengenal diri sendiri, beradaptasi dengan idealisme diri yang bertemu dengan lingkungan sosial yang makin luas. Mengeksplorasi perguruan tinggi dan karier, menyelaraskan harapan dan rencana masa depan dengan harapan orang tua adalah hal-hal yang kerap ditemukan saat remaja. Tidak jarang semua itu membuat remaja merasa lelah, bingung, cemas, atau bahkan kehilangan semangat. Kondisi tersebut sangat manusiawi. Itu menjadi bagian dari pengalaman belajar yang perlu dikenali dan dikelola dengan baik.

Salah satu tahap yang dilalui dalam mengenal diri bagi remaja adalah belajar mengenal dan mengidentifikasi emosi. Kadang ekspresi yang ditunjukkan tidak sesuai dengan apa yang dirasakan sehingga mengundang salah paham dari lingkungannya. Mengenali emosi yang dirasakan menjadi langkah awal seseorang untuk memahami kebutuhan diri.

Sebagai orang tua atau guru, kita perlu mendampingi remaja untuk belajar menjadi kuat dalam menjalani proses ini.  Berikut tips yang penulis bagikan dengan akronim KUAT.  KUAT dengan cara Kenali, Ungkapkan, Atasi, dan Tumbuh.

K - Kenali diri dan emosi
Langkah pertama adalah belajar mengenali apa yang sedang terjadi dalam diri. “Aku sedang sedih“ atau “Aku kecewa.” Mengakui perasaan bukan berarti menyerah. Justru kita sedang belajar memahami diri. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan cara yang baik.

U – Ungkapkan dengan cara yang sehat.
Jangan menyimpan semuanya sendirian. Remaja tidak hanya dapat berbicara kepada teman yang dapat dipercaya, tetapi juga dapat berdiskusi bersama orang tua, guru BK, guru yang dipercaya, saudara, atau orang dewasa lain yang aman.

Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. juga menjadi bagian penting dalam mencari ketenangan. Namun, ketika masalah terasa berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itu adalah bentuk ikhtiar.

Sebagai orang tua, kita juga sebaiknya mampu menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi remaja untuk bercerita. Tidak semua cerita membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan dan dipahami terlebih dahulu.

Beberapa teknik parenting sederhana dapat diterapkan, misalnya active listening dengan memberikan perhatian penuh ketika anak berbicara. Kemudian, lakukan validasi emosi . Mengakui bahwa perasaan anak itu nyata dan wajar. Kita bisa menanyakan open-ended questions seperti “Apa yang paling membuat kamu kepikiran?” daripada pertanyaan yang membuat anak merasa diinterogasi.

Orang tua juga dapat menggunakan teknik reflective listening, yaitu mengulang inti cerita anak dengan bahasa sendiri untuk memastikan bahwa kita benar-benar memahami apa yang ia maksud. Yang tidak kalah penting, hindari langsung menghakimi, membandingkan dengan anak lain, atau buru-buru memberikan solusi sebelum anak selesai bercerita.

A – Atasi dengan langkah yang tepat.
Setiap masalah tidak harus diselesaikan sekaligus. Mulailah dari hal sederhana, seperti  beristirahat cukup, mengurangi penggunaan media sosial ketika mulai membuat diri tertekan, berolahraga, menjalankan ibadah, melakukan aktivitas yang disukai, atau mulai menyelesaikan masalah dari hal yang paling mudah.

Mengatasi masalah bukan berarti orang tua harus mengambil alih semua persoalan anak. Justru, pada masa remaja, mereka perlu belajar menyelesaikan masalah secara bertahap. Orang tua dapat berperan sebagai teman berpikir dengan membantunya melihat pilihan, mempertimbangkan konsekuensi, dan menentukan langkah yang paling realistis.

Orang tua juga dapat membantu menciptakan rutinitas yang mendukung kesehatan mental.  Contohnya waktu tidur yang cukup, pola aktivitas yang seimbang, penggunaan gawai yang sehat, olahraga, ibadah, waktu bersama keluarga, dan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukai. Pendampingan seperti ini bukan berarti mengontrol setiap aktivitas anak, tetapi membantu anak membangun kebiasaan yang membuat dirinya lebih teratur dan nyaman.

T – Tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
Pengalaman sulit tidak harus menjadi sesuatu yang ingin kita lupakan. Dari pengalaman tersebut, remaja dapat belajar mengenal diri, memahami batas kemampuan, belajar meminta bantuan, dan menjadi lebih bijaksana. Kuat bukan berarti tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa sedih. Kuat berarti mau menghadapi apa yang dirasakan dan terus berusaha mencari jalan keluar. Di sinilah peran orang tua sangat penting. Berikan apresiasi tidak saja  ketika anak berhasil, tetapi juga ketika ia mau berusaha, berani bercerita, meminta bantuan, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali.

Bagi keluarga Muslim, proses tersebut dapat dikuatkan dengan nilai sabar, tawakal, ikhtiar, syukur, dan doa. Namun, nilai-nilai tersebut tidak berarti anak harus memendam masalah dan hanya “bersabar”. Mengajak anak berdoa sekaligus mencari bantuan, berdiskusi sekaligus berusaha, adalah bagian dari sabar yang produktif dan ikhtiar yang sehat.  Semoga kita semua bisa mendampingi tumbuh kembang remaja sehingga memiliki fisik yang tangguh dan mental yang kuat.