Ketika Curiosity Anak Menjadi Titik Awal Pembelajaran STEM

14 Sep 2026 11:24 WIB
Noor Iz Zumara, S.Psi,. M.Pd
Oleh Noor Iz Zumara, S.Psi,. M.Pd
Kepala KBTK Al Hikmah Surabaya
Ketika Curiosity Anak Menjadi Titik Awal Pembelajaran  STEM

"Kadang-kadang kita mengikuti sebuah seminar bukan untuk menemukan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan untuk mendapatkan peneguhan bahwa apa yang selama ini kita lakukan telah berada di jalur yang tepat."

Perasaan itulah yang saya rasakan ketika mengikuti Seminar Nasional dan Peluncuran Seri Buku Aktivitas STEM pada Anak Usia Dini yang diselenggarakan oleh SEAMEO CECCEP bersama SEAQIS beberapa bulan lalu. 

Selama ini istilah STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) sering dipersepsikan sebagai pembelajaran yang identik dengan teknologi canggih, laboratorium modern, atau berbagai peralatan yang mahal. Padahal, para narasumber seminar justru menunjukkan sebaliknya: STEM pada anak usia dini berangkat dari pengalaman nyata anak, rasa ingin tahunya, dan keberaniannya untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Pandangan tersebut sangat menguatkan praktik pembelajaran yang selama ini kami bangun di KBTK Al Hikmah. Dalam visi dan misi sekolah, kami telah menetapkan salah satu misi penting, yaitu:

"Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui eksplorasi dan budaya literasi dalam konteks STEM."

Misi tersebut bukan sekadar pernyataan yang tertulis dalam dokumen sekolah, tetapi menjadi dasar dalam merancang pengalaman belajar anak setiap hari.

Di KBTK Al Hikmah, eksplorasi dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Anak diberikan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan, baik ketika bermain maupun saat mengenal berbagai konsep pembelajaran. Guru tidak selalu memulai pembelajaran dengan memberikan penjelasan, tetapi menghadirkan pengalaman yang mengundang anak untuk mengamati, menyentuh, membandingkan, mencoba, dan menemukan.

Bagi anak usia dini, lingkungan adalah laboratorium pertama mereka. Ketika anak-anak mengamati serangga di halaman sekolah, memperhatikan daun yang gugur, mencampurkan air dan pasir, menyusun balok hingga roboh, atau mencari cara agar jembatan buatannya mampu menahan beban, sesungguhnya mereka sedang membangun pemahaman melalui pengalaman. Proses tersebut menjadi fondasi lahirnya cara berpikir ilmiah.

Yang menarik, setelah proses eksplorasi berlangsung, guru tidak berhenti pada pengalaman bermain. Mereka diajak berdialog mengenai apa yang mereka temukan. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mendorong anak berpikir lebih dalam, seperti "Mengapa hal itu bisa terjadi? "Apa yang bisa kita lakukan agar hasilnya berbeda?" atau "Bagaimana cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?"

Dengan cara tersebut, eksplorasi berkembang menjadi proses berpikir kritis. Anak belajar menganalisis situasi, mengemukakan dugaan, mencoba berbagai alternatif, mengevaluasi hasil percobaan, kemudian menemukan solusi berdasarkan pengalamannya sendiri. Pembelajaran tidak berhenti pada memperoleh jawaban yang benar, tetapi pada proses membangun cara berpikir.

Perspektif ini sejalan dengan paparan Prof. Maila D.H. Rahiem, M.A., Ph.D., Guru Besar Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesejahteraan Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menegaskan bahwa pembelajaran STEM bukanlah sesuatu yang rumit. Menurut beliau, konsep STEM justru tumbuh dari pengalaman sehari-hari anak. Guru tidak perlu terjebak dalam administrasi pembelajaran, lembar kerja, atau aktivitas paper-and-pencil. Yang jauh lebih penting adalah menyediakan kesempatan bagi anak untuk mengamati, mencoba, bertanya, dan menemukan.

Penegasan lain disampaikan oleh Prof. Vina Adriany, M.Ed., Ph.D., Direktur SEAMEO CECCEP dan dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa titik awal pembelajaran STEM adalah terciptanya ruang belajar yang aman secara emosional. Anak perlu merasa dihargai sehingga berani bertanya, mengemukakan pendapat, dan menyampaikan ide-idenya tanpa takut disalahkan. Pandangan tersebut menjadi refleksi penting bagi kami. Kesempatan bertanya yang diberikan kepada anak bukan sekadar melatih keberanian berbicara, tetapi merupakan cara guru memfasilitasi rasa ingin tahu (curiosity) yang menjadi penggerak utama proses belajar. Pertanyaan anak bukan gangguan dalam pembelajaran, melainkan pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih bermakna.

Hal ini semakin dipertegas oleh Reza Setiawan, S.Si., M.T., Direktur SEAQIS, yang menyampaikan bahwa implementasi STEM pada anak usia dini tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki sekolah, tetapi oleh kemampuan guru memfasilitasi rasa ingin tahu anak melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka. Pandangan tersebut mengingatkan kita bahwa pembelajaran STEM tidak harus dimulai dari alat yang mahal. Halaman sekolah, dedaunan, batu, pasir, air, ranting, atau benda-benda sederhana di sekitar anak dapat menjadi media belajar yang sangat kaya apabila guru mampu mengubahnya menjadi pengalaman eksplorasi yang bermakna.

Pada sesi berikutnya, Dr. Irianti Usman, Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Bandung, mengajak peserta melihat STEM dari perspektif psikologi perkembangan. Beliau menjelaskan bahwa STEM pada hakikatnya adalah cara berpikir. Science berawal dari rasa ingin tahu, Technology adalah kemampuan menggunakan alat secara bijaksana, Engineering merupakan proses mencoba, mengalami kegagalan, lalu memperbaiki, sedangkan Mathematics adalah kemampuan berpikir logis dalam memahami hubungan antarobjek dan peristiwa.

Refleksi dari seminar tersebut semakin menguatkan keyakinan kami bahwa pendidikan terbaik bagi anak usia dini bukanlah pendidikan yang dipenuhi jawaban dari guru, melainkan pendidikan yang memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mengeksplorasi, berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan akhirnya menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi.

Dengan demikian, STEM bukanlah sebuah program tambahan di KBTK Al Hikmah. STEM merupakan cara kami memandang proses belajar anak: sebuah perjalanan yang dimulai dari rasa ingin tahu, diperkaya melalui eksplorasi, diasah dengan berpikir kritis, dan diakhiri dengan keberanian mencari solusi. Di sanalah kami percaya benih-benih pembelajar sepanjang hayat mulai tumbuh.