25 Aug 2026 | 05:51

Refleksi Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Oleh: Yiyin Isgandi, Lc., M. Fil.I. Dosen STKIP AL Hikmah Surabaya

Mayoritas umat Muslim mengetahui bahwa tanggal 12 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan hari Senin, adalah hari lahir Nabi Muhammad saw. Nabi mengingatnya dan mensyukurinya dengan berpuasa pada hari Senin.  Allah Swt. memerintahkan umat Muslim untuk berpuasa sunnah pada hari Senin. Saat ditanyakan kepada beliau mengapa puasa sunnah hari Senin, beliau menjawab, “Di hari Senin aku dilahirkan dan di hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku” (HR. Muslim).

Seremoni khusus peringatan hari lahir dengan bentuk berkumpul bersama, pembacaan riwayat, zikir massal, acara keagamaan dan doa bersama terjadi di masa Dinasti Fathimiyah abad ke-4 Hijriah / 10–11 Masehi. Pada abad ke-12 Masehi, ketika mayoritas umat Islam tampak lebih cinta pada urusan duniawi dan terpecah-belah oleh berkecamuknya Perang Salib, Sholahuddin Al-Ayyubi memperingati Maulid Nabi untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi dan persatuan umat Islam. 

Beberapa tahun selanjutnya, peringatan Maulid Nabi menjadi tradisi lokal, nasional, bahkan internasional. Sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim menjadikan Maulid Nabi sebagai hari libur nasional. Indonesia, Turki, Mesir, Oman, Bahrain, UEA, Kuwait, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Brunei Darussalam dan sejumlah negara lainnya mengisinya dengan tradisi khas masing-masing. Saat ini Maulid Nabi juga diperingati di negara-negara dengan perkembangan populasi Muslim cukup signifikan seperti Amerika Serikat, Rusia, Kanada, India, Inggris, Prancis, Australia, dan lainnya.

Umat Islam di beberapa negara di atas merasa gembira dan bahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. di muka bumi. Lahirnya Nabi diyakini sebagai karunia dan rahmat dari Allah. Seakan-akan mereka sedang mengamalkan Surat Yunus ayat 58

 

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝٥٨

Artinya “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada yang mereka kumpulkan.”

 

Mereka mengekspresikan kegembiraan dengan tradisi khas masing-masing negara. Mesir mengekspresikan kegembiraan dengan mengadakan acara kumpul bersama untuk membacakan kasidah dan puisi pujian atas Nabi, festival film, sholawat dan zikir. Bahkan mereka membuat Arouset El-Maulid, permen gula khas Maulid yang terbuat dari kacang almond dan gula, yang berbentuk “Sultan menaiki kuda”.

Pakistan memperingatinya dengan mengibarkan bendera nasional di semua fasilitas publik, rumah-rumah dihiasi dengan lampu-lampu berwarna-warni. Mereka mengadakan Konferensi Seerat Nasional, tempat para intelektual agama menjelaskan kehidupan, perkataan, ajaran, dan filosofi Nabi Muhammad saw. Brunei Darussalam mengadakan Perarakan Agung, yang diikuti oleh Sultan Brunei dan kelompok masyarakat yang berpawai dengan pakaian-pakaian unik dan berjalan-jalan menyusuri seluruh kota Bandar Seri Begawan sepanjang 4,3 KM.

Rusia menjadikan Maulid Nabi sebagai sarana silaturahim antarumat Islam dan sarana menyebarkan dakwah agama Islam untuk kalangan non-muslim Rusia. Tidak aneh jika peringatan Maulid Nabi di Masjid Katedral Moskow dihadiri kurang lebih 2.000 jamaah dari Dagestan, Chechnya, Tajikistan, Uzbekistan, Azerbaijan, dan wilayah lainnya.

Maulid Nabi Muhammad saw di Al Hikmah

Bagaimana dengan civitas akademika di lingkungan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI Al Hikmah)? Para guru, dosen, tenaga kependidikan, siswa, dan mahasiswa juga merasa gembira dan bahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. YLPI Al Hikmah memilih untuk menjadi lembaga dakwah berbasis pendidikan. Karena itu, peringatan Maulid Nabi diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang edukatif, responsif, solutif, dan penuh kebersamaan untuk meneladani Rasulullah saw.

Di antaranya kumpul bersholawat dan berdoa bersama untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Baginda Rasulullah, memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, pemberian tausiahmauidhotul hasanah, Talk Show Cinta Rasul, dan dongeng islami tentang perjuangan hidup Rasulullah saw.

Berbagai lomba pentas seni islami juga diadakan seperti tilawah dan tahfidz Al-Qur’an, membaca puisi, nasyid, dan pidato singkat tentang teladan Nabi. Bahkan sering juga para siswa diajak gemar berinfak dan bersedekah untuk misi keagamaan dan kemanusiaan. Para siswa terkadang membawa makanan dan minuman tradisional untuk dikonsumsi bersama. Di SMP AL Hikmah, kegiatan-kegiatan tersebut biasanya dikemas dan diadakan sebulan penuh, sehingga dinamakan Bulan Cinta Rasul (BCR).   

Refleksi memperingati Maulid Nabi tidak boleh berhenti hanya dengan mengadakan kegiatan seremonial berbentuk pawai keliling, kumpul bersama, dan lomba-lomba islami. Tetapi harus dapat meningkat pada aksi nyata untuk mencintai dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam semua aspek kehidupan.

Mencintai Allah Swt. lalu mencintai Rasulullah saw. adalah bentuk iman mendasar. Mencintai beliau dengan memperbanyak do’a dan sholawat kepada Nabi, membaca kisah kehidupan mulia beliau dari sumber-sumber Al-Qur’an, hadits, maupun kitab-kitab Sirah Nabawiyyah yang otentik.

Kita bisa meneladani Nabi Muhammad saw. dengan memperkuat adab dan akhlak mulia, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, belajar sepanjang hayat, berdakwah dan berjuang di jalan Allah tanpa henti, menunjukkan kepedulian dan empati sosial terutama kepada fakir miskin, yatim piatu, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.