Oleh Asmaul Husna, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia SMA Al Hikmah Surabaya)
Hidup karena panggilan jiwa, perjuangan adalah kenikmatan. Dianggap gila juga tidak apa-apa karena hanya orang gila yang bisa memutar dunia. (R.A. Kartini)
Di sebuah kamar dengan penerangan terbatas, seorang perempuan muda bernama Raden Ajeng Kartini, berbekal kemampuan bahasa Belanda, membaca buku dari berbagai literatur bermutu yang diperoleh dari kakaknya, yaitu Rd. Sostro Kartono, yang berprofesi sebagai jurnalis. Saat itu, Indonesia di bawah cengkeraman kolonialisme, budaya patriarki dan feodalisme. Meski anak bangsawan, Kartini tidak suka dengan feodalisme yang merupakan sistem sosial lama. Kekuasan dan kekayaan tanah dikuasai bangsawan.
Namun, kegelisahan terbesarnya terletak pada budaya patriarki dan ketidakberdayaan perempuan. Beliau menyaksikan perempuan cerdas yang harus mengubur mimpinya tanpa punya kuasa atas masa depannya sendiri. Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, bahkan hak penguasaan atas properti. Sistem sosial patriarki menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan.
Menurut budaya Jawa, seorang perempuan yang baik adalah yang setia kepada laki-laki, rela dimadu, mencintai suami, terampil dalam pekerjaan domestik, pandai berdandan dan merawat diri. Selain itu, perempuan harus tampil sederhana, pandai melayani kehendak laki-laki, memberikan perhatian kepada mertua, dan gemar membaca buku yang berisi nasihat.
Karena budaya tersebut, Kartini memberontak. Ia mempertanyakan konsep itu kepada ibunya, namun selalu diminta manut saja. Mengapa perempuan lebih rendah dari laki-laki? Mengapa perempuan harus selalu patuh? Mengapa tidak ada ruang mengajukan keberatan? Bukankah pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan sama sebagai manusia?
Berkat bacaan dan kecerdasannya tersebut, Kartini menyampaikan segala kegelisahannya dan apa yang diinginkannya melalui korespondensi kepada beberapa tokoh di Belanda. Mereka adalah teman sekolah, para pejabat pemerintahan Belanda, aktivis politik, dan istri-istrinya yang pernah tinggal di Indonesia.
Langkah utama yang diambil adalah jalur pendidikan, khususnya pendidikan bagi kaum perempuan. Bukan tanpa alasan. Dia pendidik pertama anaknya, di pangkuannya anak pertama belajar merasa, berpikir, berbicara, dan dalam kebanyakan hal pendidikan pertama. Tangan ibu yang meletakkan benih kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia. Maka, jika ibu tidak berkualitas, manusia juga tak akan berkualitas.
Senada dengan apa yang didamba Kartini, adalah Marie Curie. Ia adalah peraih Nobel dan tokoh pelopor di dunia sains. Perempuan luar biasa ini mampu menyeimbangkan penelitian perintisnya dengan tanggung jawab membesarkan anak-anaknya. Dedikasinya terhadap penemuan ilmiah, bahkan di era ketika perempuan menghadapi banyak hambatan di bidang tersebut, tidak menghalanginya untuk menjadi seorang ibu yang berbakti. Hidupnya adalah bukti bahwa dengan tekad dan semangat, seseorang dapat unggul baik dalam mengejar pengetahuan maupun dalam pengasuhan anak.
Ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan istimewa sehingga Al-Qur'an mengabadikan kisah-kisah inspiratif dari beberapa sosok ibu yang menunjukkan keteguhan iman, kesabaran, dan pengorbanan luar biasa tersebut. Berikut kisah perempuan-perempuan agung dalam sejarah Islam yang dihormati karena keimanan, keteguhan, dan peran mereka dalam mendampingi anak-anaknya menjadi sosok hebat di dunia.
Pertama, Hawa, ibu umat manusia. Meskipun namanya tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an, peran Hawa sebagai ibu dari seluruh umat manusia menjadi dasar dari perjalanan hidup kita. Kedua, Hajar. Hajar adalah sosok ibu penuh pengorbanan yang dikenal dengan perjuangannya mencari air di padang pasir Makkah. Kisahnya diabadikan dalam ritual Sa'i, salah satu rukun ibadah haji. Ketiga, Sarah, istri Nabi Ibrahim as. Ia dikenal karena kesabarannya menanti keturunan hingga usia tua. Allah Swt. mengabulkan doanya dengan mengaruniakan seorang putra, Nabi Ishaq as.
Keempat, Asiyah. Asiyah adalah istri Firaun yang dikenal atas imannya kepada Allah Swt. meskipun hidup di lingkungan yang penuh kekufuran. Ia menjadi ibu angkat Nabi Musa as. dan melindunginya dari kejahatan Firaun. Kelima, Maryam. Ia adalah satu-satunya wanita yang namanya disebutkan langsung dalam Al-Qur'an dan menjadi nama surah tersendiri (Surah Maryam). Kesucian dan ketaatannya kepada Allah membuatnya dipilih untuk melahirkan Nabi Isa as. tanpa ayah.
Kisah para perempuan hebat ini mengajarkan kita betapa besarnya peran seorang ibu dalam membangun iman, menanamkan karakter, membesarkan generasi hebat, dan menghadapi ujian hidup dengan sabar. Sosok mereka adalah teladan nyata bagi semua generasi. Itulah mengapa Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan di zamannya. Anak-anak yang berkualitas lahir dari ibu-ibu yang cerdas. Ibu adalah perempuan hebat yang mampu menembus batas tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang perempuan.
Selamat Hari Kartini bagi semua perempuan Indonesia.