Mengenali, Menamai, dan Mengelola Emosi di Masa Remaja Awal
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), remaja akan mengalami banyak perubahan. Mulai dari hadirnya lingkungan pertemanan yang baru, tuntutan akademik yang meningkat, hingga perubahan fisik. Bagi sebagian remaja, fase transisi ini rentan memicu penurunan motivasi dan kepercayaan diri. Terutama apabila sekolah kurang responsif terhadap kebutuhan perkembangan mereka.
Kebutuhan akan dukungan emosi remaja terlihat pada data nasional. Menurut Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS), survei kesehatan mental remaja nasional pertama yang dilakukan pada populasi usia 10–17 tahun, ditemukan bahwa sekitar satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Meskipun temuan tersebut sebatas gejala dan belum tentu diagnosis medis, hanya 2,6% remaja yang mengakses layanan kesehatan mental. Di bagian yang lain, sebanyak 38,2% pengasuh paling sering mengakses bantuan melalui jalur sekolah (Universitas Gadjah Mada, 2022).
Berarti, sekolah menjadi tempat utama bagi perlunya pembekalan keterampilan bagi para guru dalam memfasilitasi layanan kesehatan emosional siswa. Pentingnya pendampingan di sekolah juga didasari oleh beragamnya cara siswa mengekspresikan emosi. Keunikan cara tiap individu dalam mengelola perasaan inilah yang membuat penulis memberi kiasan “Seni” tersendiri. Harapannya, seorang siswa yang dibimbing untuk mengenali, menamai, dan mengelola emosi dengan baik akan membentuk pribadi yang tangguh. Pribadi yang memiliki kemampuan untuk pulih dan beradaptasi saat menghadapi tekanan.
Identitas dan Harga Diri
Dalam bukunya Childhood and Society, Erikson (1963) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan tahap pencarian jati diri. Pada fase ini, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Siapa aku?” “Apa kelebihanku?”, dan “Apakah aku diterima oleh orang lain?” menjadi bagian penting dari proses perkembangan mereka.
Persoalannya, tidak sedikit remaja yang menggantungkan penilaian terhadap dirinya pada satu hal saja. Mereka merasa berharga ketika memperoleh nilai bagus, dipuji, memiliki penampilan menarik, atau diterima oleh kelompok pertemanan. Sebaliknya, ketika mengalami kegagalan atau penolakan, mereka merasa diri mereka tidak cukup baik. Crocker dan Wolfe (2001) menjelaskan bahwa ketika harga diri bergantung pada pencapaian atau penerimaan tertentu, perasaan berharga terhadap diri sendiri dapat menjadi mudah berubah mengikuti keadaan. Karena itu, remaja perlu belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh satu nilai ujian, satu komentar teman, atau satu kegagalan. Mereka memiliki kelebihan sekaligus keterbatasan, dan keduanya merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Menjadi diri sendiri bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan mengenali siapa diri kita, menerima keterbatasan, mengembangkan potensi, dan tetap menghargai orang lain.
Regulasi Emosi
Regulasi emosi adalah kemampuan mengenali, mengelola, dan mengekspresikan perasaan dengan tepat (Gross, 1998). Salah satu caranya adalah mengubah cara pandang terhadap suatu situasi. Misalnya, ketika teman tidak menyapa, kita tidak langsung menganggapnya tidak suka, tetapi mempertimbangkan kemungkinan bahwa ia sedang sibuk. Langkah sederhana lainnya adalah mengenali dan menyebutkan perasaan yang sedang dialami.
Lima Kompetensi Sosial-Emosional
Kerangka CASEL (2020) merumuskan lima kompetensi sosial-emosional yang perlu dikembangkan melalui lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, yaitu:
Kesadaran diri, mengenali perasaan, kekuatan, dan keterbatasan diri.
Pengelolaan diri, mengendalikan emosi dan perilaku.
Kesadaran sosial, memahami perasaan dan sudut pandang orang lain.
Keterampilan berelasi, membangun hubungan yang sehat dan menyelesaikan konflik.
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, memilih tindakan dengan mempertimbangkan konsekuensinya.
Mengenali Sinyal Tubuh dan Berani Mencari Bantuan
Stres tidak hanya memengaruhi pikiran dan perasaan, tetapi juga dapat muncul melalui gejala fisik, seperti sakit kepala, sulit tidur, dan gangguan pencernaan (National Institute of Mental Health). Keluhan yang berulang perlu diperhatikan dan, bila diperlukan, diperiksakan kepada tenaga kesehatan.
Remaja juga perlu memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah untuk menjaga diri. Rickwood dkk. (2005) menemukan bahwa remaja cenderung mencari bantuan dari teman dan keluarga. Karena itu, mereka perlu dibimbing untuk mengenali orang dewasa tepercaya, seperti orang tua, wali kelas, atau guru Bimbingan dan Konseling (BK).
Bantuan profesional perlu dicari apabila remaja mengalami kondisi berikut:
Perasaan sedih, cemas, atau mudah marah yang berlangsung selama berminggu-minggu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Menjadi korban atau menyaksikan perundungan.
Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bunuh diri, atau menyakiti orang lain.
Peran Bersama Keluarga dan Sekolah
Masa transisi ke SMP merupakan periode penting bagi remaja. Perubahan lingkungan dan tuntutan baru dapat memengaruhi motivasi serta kepercayaan diri mereka. Karena itu, siswa perlu dibekali kemampuan mengenali perasaan, memahami sinyal tubuh, dan mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Di rumah, orang tua berperan menjadi pendengar yang aman. Dengarkan dan akui perasaan anak sebelum memberikan nasihat. Di sekolah, guru berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Hal ini dapat dilakukan dengan menunjukkan empati, menyediakan lima menit untuk mengecek perasaan siswa sebelum pelajaran, menerapkan disiplin yang berorientasi pada pemulihan (restorative discipline), serta menjadi teladan dalam mengelola emosi. Sementara itu, guru BK dapat memberikan layanan klasikal, bimbingan kelompok, dan konseling individual sesuai kebutuhan siswa. Jika diperlukan, guru BK juga dapat merujuk siswa kepada tenaga profesional yang tepat. Ketangguhan sosial-emosional tidak terbentuk dalam sehari. Kemampuan ini tumbuh melalui proses mengenali diri, memahami dan mengelola emosi, serta mendapatkan dukungan dari lingkungan yang aman.
Referensi:
CASEL. (2020). CASEL’s SEL framework. https://casel.org/casel-sel-framework-11-2020/
Crocker, J., & Wolfe, C. T. (2001). Contingencies of self-worth. Psychological Review, 108(3), 593–623.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.3.271
Erikson, E. H. (1963). Childhood and society (2nd ed.). W. W. Norton.
National Institute of Mental Health. (t.t.). I’m so stressed out! Fact sheet. https://www.nimh.nih.gov/health/publications/so-stressed-out-fact-sheet
Rickwood, D., Deane, F. P., Wilson, C. J., & Ciarrochi, J. (2005). Young people’s help-seeking for mental health problems. Australian e-Journal for the Advancement of Mental Health, 4(3), 218–251.
Universitas Gadjah Mada. (2022). Burden of adolescent mental disorders in Indonesia: Results from Indonesia’s first national mental health survey (I-NAMHS). https://ugm.ac.id/en/news/23169-burden-of-adolescent-mental-disorders-in-indonesia